Tokenomics 101 Untuk Startup Web3

6 min read
To Share and +4 nLEARNs

Pada kesempatan ini kami anggap teman-teman sedang berencana untuk membuat aplikasi dApps sendiri dan mulai meramaikan dunia web3. Selamat karena sudah sampai sejauh ini! Bagaimanapun, sebelum kamu merilis aplikasi terobosan dan menjadi game-changing, kamu perlu memahami salah satu inti dari web3 yakni tokenomics. Tokenomics sendiri merupakan istilah gabungan dari “token” dan “economy” yang sudah cukup mencirikan istilahnya itu sendiri. Jadi pada artikel ini kamu akan mengetahui semua hal tentang tokenomics.

Apa itu Tokenomics?

Tokenomics adalah istilah yang masih begitu luas, tetapi masih mencakup beberapa faktor seperti penawaran dan permintaan, perilisan token, fungsi burn, dan lain-lain. Secara sederhana, ini merupakan jumlah total fungsi dan faktor ekonomi yang memengaruhi token tersebut dalam berbagai cara. Token dari sebuah project dengan tokenomik yang solid dianggap sebagai investasi yang lebih menarik. Jadi langsung saja, tanpa basa-basi lagi, mari kita lihat perbedaan dari faktor-faktor tersebut

Faktor 1 : Penawaran dan Permintaan

Persamaan (rumus) dari penawaran dan permintaan merupakan salah satu faktor terpenting untuk menjelaskan tokenomics. Berikut ini adalah satu dari diagram ekonomi yang paling penting yakni : diagram permintaan dan penawaran

Grafik diatas menunjukkan hubungan antara penawaran dan permintaan pada jenis komoditas tertentu. Harga komoditas selanjutnya ditentukan dari permintaan pada pasar dan jumlah komoditas atau barang yang tersedia.

Kelangkaan suatu barang (yaitu persediaan barang yang semakin berkurang) sering dianggap sebagai faktor penting dalam penaksiran harga produk. Pikirkan harga yang melambung tinggi yang menjual mesin PS5 di pasar barang bekas karena kelangkaannya. Namun jangan hanya karena suatu barang itu langka dipasaran, bukan berarti barang itu berharga. Kamu memang bisa mengambil foto diri sendiri (selfie) yang akan menjadikan barang tersebut unik, tetapi bukan berarti kamu akan mendapatkan ribuan dolar untuk itu kan? Tentunya harus ada permintaan di pasar. Pada tahap ekuilibrium (keseimbangan), grafik permintaan dan penawaran saling menyeimbangkan secara sempurna.

Ada dua hal yang dapat kita simpulkan dari grafik tersebut, yaitu:

  • Ketika penawaran / suplai dari suatu aset tinggi tetapi permintaannya rendah, itu tidak akan mempengaruhi harga secara positif
  • Jika permintaan tinggi tetapi penawaran rendah, itu akan mempengaruhi harga secara positif.

Penawaran dan Permintaan dalam Token

Ketika berbicara tentang Bitcoin, salah satu momen value creation yang sangat signifikan dalam protokol adalah peristiwa halving yang secara berkala terjadi setiap empat tahun sekali. Bitcoin memiliki total pasokan atau suplai tetap sebesar 21 juta. Penambang akan menambang Bitcoin untuk mendapatkan hadiah blok untuk melepaskan BTC ke dalam total pasokan yang beredar.

Setiap empat tahun, Bitcoin mengalami fase halving yang mekanismenya adalah memotong hadiah blok hingga setengahnya yang ini akan mengurangi jumlah BTC yang memasuki suplai yang beredar. Satoshi Nakamoto sengaja menambahkan mekanisme ini untuk memastikan pasokan akan berkurang dari waktu ke waktu dan harapannya adalah meningkatkan harga nilai secara keseluruhan.

Beberapa token seperti BNB memiliki mekanisme pembakaran (burning) artifisial. Burning  berarti kita mengirim token ke dompet yang kunci pribadinya tidak dimiliki oleh siapa pun. Dengan demikian, kita berarti menghapus token ini dari peredaran alias membakar token (burning).

Ada juga token tertentu yang bersifat inflasi. Misalnya, EOS memiliki tingkat inflasi tahunan sebesar 1%. 1% ini digunakan untuk membayar produsen blok. Idenya adalah bahwa sistem EOS akan menjadi sangat sibuk dari waktu ke waktu sehingga peningkatan suplai tidak akan memengaruhi jumlah permintaan.

Faktor 2 : Distribusi Token

Sebuah protokol dapat mendistribusikan token melalui mekanisme launching secara adil (fair launch) atau pre-mine. Ketika fair launch terjadi, setiap orang memiliki kesempatan yang adil untuk mendapatkan token. Peluncuran Bitcoin telah adil karena setiap orang memiliki kesempatan yang sama persis untuk memperoleh BTC. Tidak ada pra-penjualan, tidak ada pendanaan investor privat. Jika kamu menginginkan Bitcoin, kamu harus menambangnya dari awal.

Namun, fair launch sangat jarang saat ini. Dimulai dari era ICO, token telah diluncurkan melalui metode yang disebut pre-mine. Dalam pre-mine, token dibuat sebagian atau seluruhnya dan kemudian didistribusikan ke berbagai pihak seperti VC, investor, dll., sebelum dirilis ke publik. Jelas, pre-mining tidak adil karena rata-rata pengguna tidak mendapatkan kesempatan pertama dari “kue yang diberikan”. Namun, dalam lanskap saat ini, hal itu perlu dilakukan karena proyek membutuhkan suntikan likuiditas awal dari VC dan market maker. Mereka membutuhkan likuiditas untuk membayar tenaga kerja, pengembangan, membangun ekosistem, dan lain-lain..

Karena itu, sangat penting bagi kita untuk melihat berapa banyak token yang didistribusikan ke pihak-pihak ini. Misalnya, jika sebuah tim mengalokasikan 5% token untuk dirinya sendiri, maka ini tidaklah mengaoa. Bagaimanapun juga, mereka memang membutuhkan uang untuk mendanai tim mereka. Namun, jika mereka memberikan 50% untuk diri mereka sendiri, maka itu berpotensi menjadi tanda bahaya.

Ketika aset memiliki suplai yang rendah dan permintaan yang tinggi, hal ini berarti:

Correct! Wrong!

Faktor 3 : Staking

Pada intinya, tokennomics yang baik harus menghasilkan metode yang berbeda untuk memberi insentif kepada para pengguna untuk mempertahankan token mereka. Salah satu cara paling menarik untuk melakukannya adalah memastikan pemegangnya mendapatkan ROI yang terjamin. Banyak proyek melakukannya dengan mekanisme staking.

Idenya sederhana, yakni kunci token anda dalam protokol dan dapatkan hadiah. Misalnya, jika anda memegang token Curve (CRV), Anda dapat melakukan staking  di Convex Finance sebagai cvxCRV dan mendapatkan ~30% vAPR. Aplikasi DeFi memungkinkan anda untuk melakukan staking berbagai token yang dapat membantu anda mendapatkan hasil.

Staking juga memungkinkan pengguna untuk mengunci token milik mereka, secara otomatis menjadikannya pemegang jangka panjang. Lagi pula, kita tidak dapat menjual token yang telah dikunci dengan kuat di ekosistem, bukan?

Sekarang, pertanyaan berikutnya yang perlu dipertimbangkan di sini adalah, bagaimana kita bisa memberi insentif kepada pengguna kita untuk rela men-stake koin tersebut untuk waktu yang lama? Nah, proyek seperti Curve memiliki penawaran bunga majemuk sederhana yang bekerja cukup baik untuk mereka. Semakin lama mereka mengunci CRV milik mereka, maka semakin banyak hadiah yang akan didapatkan.

Staking juga memberi kita hak tata kelola (governance) di beberapa proyek. Men-staking token native memungkinkan kita untuk menjadi anggota dari protokol DAO dan memberikan suara pada berbagai keputusan. Misalnya, di Curve, kita dapat mempertaruhkan CRV dan veCRV kita serta mendapatkan token voting. Semakin banyak CRV yang kita stake, maka semakin banyak veCRV yang kita  dapatkan. veCRV tidak memiliki nilai selain digunakan sebagai token voting dalam DAO.

Faktor 4 : Jadwal Vesting

Di Faktor yang ke-2, kita membahas bagaimana premining memungkinkan proyek mengalokasikan token khusus untuk investor swasta dan VC. Namun, bagaimana jika orang-orang itu segera membuang token tersebut di pasar terbuka? Itu tidak akan membuat proyek kita jadi bagus, bukan?

Jadi, yang dapat kita lakukan di sini adalah menggunakan berbagai jadwal vesting untuk alokasi kita. Vesting memungkinkan kita untuk mengunci token yang didistribusikan untuk waktu tertentu (alias periode vesting). Ini meningkatkan waktu untuk harus menunggu sebelum mendapatkan token.

Sekarang, sebelum kita melangkah lebih jauh, mari kita bicara tentang “cliff”. Dalam hal vesting, cliff adalah kunci durasi yang ditempatkan pada token vesting sebelum jadwal vesting dimulai. Ada dua jenis vesting yang bisa kita lakukan:

  • Linear vesting: Distribusi token dilakukan secara konsisten dan dalam porsi yang sama dalam jangka waktu tertentu.
  • Twisted vesting: Distribusi token dapat bervariasi dalam berbagai periode waktu.

Membuat token anda sendiri – Best Practices

Jadi, sekarang setelah kita mengetahui dasar-dasar dari tokenomics, sekarang mari kita buat token milikmu sendiri. Kamu dapat menggunakan token playground ini untuk menguji berbagai struktur token.

Seperti yang kita lihat, kita dapat memasukkan nama token, simbol, persediaan total, dan tempat desimal.

Di bawahnya, kita memiliki daftar alokasi token. Bergantung pada berapa banyak advisor dan VC yang terlibat pada proyek milikmu. Kamu dapat memberikan alokasi yang sesuai. Namun ini hanyalah sebuah saran. Jangan berlebihan dengan alokasi untuk advisor. Pertahankan jumlah mayoritas yang signifikan untuk komunitasmu..

Sebagai contoh:

  • 10% untuk tim
  • 10% untuk investor awal
  • 0,25% -0,5% per advisor
  • Sisanya adalah untuk komunitas

Apa jenis vesting berikut ini : Distribusi token disalurkan secara konsisten dan berimbang pada periode waktu dan bagian tertentu

Correct! Wrong!

Kesimpulan

Ketika membangun protokol Web3, model tokenomics yang baru akan sangat krusial untuk kesuksesan jangka panjang dari proyek anda. Pada artikel ini, kita telah mendiskusikan tentang empat fitur yang dapat kamu integrasikan dalam strategi tokenomics untuk menghindari dumping dan memberikan insentif pada para pengguna untuk memegang token anda dan justru menambah jumlahnya lebih banyak lagi.

Saat distribusi token, jumlah token mayoritas harusnya dialokasikan kepada:

Correct! Wrong!

4

Tinggalkan Komentar


To leave a comment you should to:


Scroll to Top